Tahap Orientasi Jadi Ibu Social Media


Sejak memutuskan untuk menikah di usia yang masih amat muda 5 tahun yang lalu, mau ga mau harus siap pula buat jadi seorang ibu muda *cie mahmud *uhuk. 


Disaat teman yang lain lagi sibuk sama aktivitas kemahasiswaannya, saya mulai ikut banyak forum motherhood di social media. Bergaul dengan ibu lain yang usianya lebih matang dibanding saya. Saat rekan seangkatan lagi sibuk kkn, kerja lapangan dan skripsi, saya pun sama dengan mereka. Mau ga mau harus tetap selesaikan kuliah tepat waktu sebagai perjanjian saya sama mama ketika memutuskan menikah muda. Cuma bedanya, ada anak yang nempel dan menemani perjuangan saya buat lulus. *cie

Jadi ibu muda dengan ego yang masih tinggi, ga mudah ternyata. Orang bilang idealisme ibu dengan anak pertama, ingin segala serba sempurna. Gampang stress kalau ada yang komen negatif soal perkembangan anak, cara pengasuhan, dll. Bawaannya baper, nulis status atau ikut komen di forum, ikut ngejudge buat pembenaran pribadi. 

Seringkali juga saya liat semacam mom influencers atau bahkan juklak apa saja yang harus dilakukan buat jadi seorang perfect mom beredar di social media. Bahkan saat masih memasuki tahap orientasi jadi seorang ibu alias first time mom, sampe ada akun satir yang sempet heboh bahas soal perfect mom di ranah pertwitteran, ga lain dan ga bukan yaitu @mamayeah. Ceritanya mamayeah adalah sosok perfect binti supermom yang stay at home tapi berpenghasilan sendiri, IMD, ASIX, homemade MPASI, jago memasak, berkebun, menjahit, dan memuaskan suami *sesuai dengan bio di akun twitternya. 

Karena ngeklaim sebagai sosok yang supermom, mamayeah ini ngebeberin semua hal yang lagi happening di dunia parenting dengan gaya bahasanya yang satir. Buat isi twitnya bisa googling ya. Banyak ko yang sempet mengabadikan kicauannya mamayeah yang bikin senyum mesem mesem sendiri.  


Awalnya saya sempet kemakan sama juklak perfect mom yang beredar di social media. Stress dan ngerasa bersalah banget kalo sampe ga bisa memenuhi salah satu kriterianya. Sampe muncullah istilah mom guilt. Iya, sebagai ibu, saya masih banyak kurangnya. Saya bukan perfect mom, but no one will ever love my daughter like I do. Karena kadar cintanya itu, ibu manapun pasti ingin berikan yang terbaik buat anaknya, termasuk saya. Walau seringkali keluar dari juklak yang beredar di social media, yang paling bener ya yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi kita. Cuma kita yang tau kemampuan dan apa yang terbaik untuk keluarga. Apalagi semua keputusan itu pasti udah dipertimbangkan baik buruknya. 


Disaat saya yang mulai woles menyoal juklak perfect mom ini, teman teman seumuran saya mulai memasuki dunia motherhood. Muncul (kembali)lah tulisan tulisan beraromakan juklak how to be a perfect mom di timeline social media saya. Berasa nostalgia, saya mulai berasumsi mungkin memang ada orientasinya buat jadi ibu di social media. Rasanya belum afdol jadi seorang ibu baru atau first time mom kalo belum berhadapan atau bahas topik - topik ini. 



Persalinan normal vs caesar


Ini yang lagi rame di jagat timeline saya untuk kesekian kalinya. Bahasan ini yang paling bikin saya gagal paham deh, beneran. Entah darimana ceritanya cara persalinan jadi syarat sempurnanya seorang ibu. Kalau persalinannya normal ya alhamdulillah, kalaupun harus caesar, ya alhamdulillah juga. Yang penting ibu dan bayi bisa selamat nan sehat. Kayanya ga akan ngurangin rasa bahagia, haru endesbre endesbre ketika ketemu bayi yang selama beberapa bulan ada di rahim kita untuk pertama kalinya.  


ASI vs Susu Formula


Sejak hamil, saya udah niat pengen ngASI buat Harumi sampe 2 tahun. Ketika saya dan abi baru nikah, bener bener dari nol, saya masih kuliah, abi juga sama walau disambi kerja. Istilah kasarnya, ASI salah satu hal (yang insya Allah terbaik) yang saya berikan disaat saya belum bisa kasih mainan atau baju yang bagus buat Harumi. Saya pun mulai aktif jadi pembaca pasif di berbagai forum soal ASI. Tapi apa dengan ngASI ke anak, kita juga berhak kepo dan nyinyir ibu yang ngasih susu formula? 


Saya sebenernya lebih seneng pertanyaan "anaknya masih ASI?" ke para ibu itu disudahi saja. Karena akan jadi awkward moment bagi penanya sama yang ditanya kalau ternyata jawabannya "engga". Alih - alih kepo soal asi atau sufor, mending ngomongin kapan uttaran bakal tamat, siapa pemenang DA2, atau tawarin ibunya voucher belanja juga nyalon *emm. 


Stay at home mom vs working mom


Bahasan ini juga bakal dihadapi para ibu baru di social media. Jujur, saya pernah terlibat pernyinyiran terhadap working mom waktu masih jadi mahasiswa dan ibu rumah tangga. Setelah lulus dan keterima di salah satu perusahaan Jepang, saya mulai ganti status jadi working mom. Kalau diinget - inget nyinyiran saya soal working mom bawaannya mesem mesem  dan nyesel sendiri. Saya labil banget ternyata ketika memasuki tahap orientasi jadi seorang ibu.


Padahal, selama suami mengizinkan dan ridho, paham kondisi anak, paham kondisi ekonomi dan alasan lain yang bisa dipertanggung jawabkan, ga ada yang salah ko dari dua profesi tersebut. 


Akhir kata, Every mom is fighting a battle you know nothing about. Selain 3 topik itu masih banyak topik lain yang bakal ditemui ketika jadi ibu di social media. Belum bahas asi langsung vs perah, vaksin, homemade baby food, metode parenting, homeschooling vs formal schooling endesbre endesbre. 


Emangnya mahasiswa, orientasinya cuma berhadapan sama komisi displin, itu pun cuma beberapa bulan. Pressurenya cuma ditanya,"gimana skripsi?", "kapan lulus?", "kapan nikah?" *mulai nyinyir. Dunia ibu di social media lebih kompetitif dan banyak ranjaunya, anak muda!

Kesempurnaan hanya milik Tuhan dan mamayeah, sementara ketidaksempurnaan hanya milik kita dan bunda Dorce. 




www.febifebriany.com

16 comments

  1. Setuju! Tiap ibu memang memiliki perjuangannya masing-masing yaaa, kita nggak bisa seenaknya aja menjudge mereka. Karena kita sebenernya nggak tau kan apa aja hal-hal yang udah mereka lewati? Semua ibu itu hebat! Jangan mudah terprovokasi dan mari bergandengan tangan untuk menuju dunia yang lebih baik. Hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener kah, setiap ibu punya medan perangnya sendiri, hihihi

      Delete
  2. Duuh uda siap2 pasang badan woles nih ketika masa 'orientasi' nih

    ReplyDelete
  3. Aku semacam mama cuek beibeh dari jaman emak muda sampai emak menuju tua gini ngga ngaruh semua "perpect"Mom di socmed, this is my life and they are my children,aku yg menjalaninya aku tahu susah payahnya, kalo aku memutuskan utk ini itu pasti ada alasannya,tak perduli orang komentar apa,santai aja.kalo mama happy anak suami pasti happy percaya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba, yang tau urusan dapur kita kan kita sendiri, yang penting keluarga happy :D

      Delete
  4. Ahahaaa semua tulisan mbak ini aku banget *tutupan wajan* :D :D
    Setelah anak kedua untungnya tersadarkan dan berubah seloo sekali, ternyata lebih nyaman jadi diti sendiri dan tutup mata dari semua artikel parenting yg wara wiri :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi, biasanya kan kalo anak pertama itu dibesarkan dengan idealis
      kalo anak kedua, dibesarkan dengan pengalaman
      anak ketiga, dibesarkan dengan sendirinya, hahaha

      Delete
  5. Xixixi, banyak kisah jadi ibu, ya? Tapi seru kan? :D

    ReplyDelete
  6. wah, baru tahu saya Mba, kalo kudu ada orientasi juga, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya nyebutnya orientasi sih, soalnya tiap ibu baru pasti nemu topik topik ini di social media. hehehe

      Delete
  7. saat hamil dan membesarkan anak balita, aku justru berhenti main sosmed... cuma baca2 majalah atau tabloid aja biar gak galau hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. puasa socmed udah yang paling aman deh
      aman di hati, hihihi

      Delete
  8. aku bisa benerin keran bocor, ngecat tembok, benerin mesin cuci, ((kurang super mom apa cobaaaaa))..

    ReplyDelete
    Replies
    1. supeeerrr bingiiit *sampe muncrat

      Delete

Terima Kasih telah membaca. Boleh banget lho kalau mau tinggalkan komentar, gratis, gak dipungut biaya. Untuk saat ini, komentar dimoderasi. So, komentar spam, link hidup, atau komen gak santai, otomatis terhapus. Ditunggu kunjungannya kembali XOXO.